Sebelum Hancur Lebur: Sastra di Ambang Kiamat Teknologi

mcdnsystem

Dimcdnsystem tengah derasnya arus teknologi yang menjanjikan efisiensi dan kecepatan, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: Apa arti kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan ketika teknologi seolah mampu menjawab semua persoalan manusia? Ketika algoritma bisa menebak perasaan, ketika AI mampu menulis puisi dan melukis kanvas, apakah masih ada ruang bagi manusia untuk merasakan, mencipta, dan merenung?

Dalam dunia yang semakin digerakkan oleh mesin, sastra tampak seperti suara lirih di tengah hiruk-pikuk industri digital. Namun justru dalam keliruan, dalam kegagapan, dalam ketidaksempurnaan manusialah sastra menemukan maknanya. Sastra bukan sekadar produk; ia adalah proses, pergulatan, dan kesaksian atas hidup yang dijalani dengan penuh luka dan harap.

Novel Sebelum Hancur Lebur menghadirkan distopia yang tak lagi terasa asing. Ia bukan sekadar fiksi ilmiah, melainkan cermin dari masa kini yang sedang kita jalani. Dari sastrawan yang digantikan oleh content creator, hingga masa depan ketika emosi bisa diproduksi dalam bentuk pil, novel ini mengajak kita merenungi: Apakah kita masih butuh sastra jika perasaan bisa dibeli di apotek?

Tokoh Risdianto, penyair yang tak terkenal, menjadi simbol perlawanan sunyi terhadap zaman yang menuntut kecepatan, kesuksesan, dan efisiensi. Ia memilih untuk “tidak berkembang,” untuk tetap menjadi manusia yang bergulat dengan hidup, bukan sekadar konsumen sensasi. Dalam keterasingannya, ia menemukan bahwa mungkin satu-satunya yang tak bisa digantikan oleh teknologi adalah kesiapan untuk menjalani hidup.

Sastra, dalam tafsir ini, bukan lagi tentang estetika semata. Ia menjadi laku hidup. Ia hadir dalam cara kita menatap dunia, dalam kesediaan kita untuk tidak tahu, untuk gagal, untuk merasakan. Ketika semua bisa disimulasikan, maka yang otentik adalah keberanian untuk tetap menjadi manusia.

 

Salam Hangat
Burhanudin, SH. MH.

Copyright © 2024 PT. Mitra Cimanuk Digital Network All Rights Reserved