Mengenalkan Nilai Rendah Hati dalam Lingkungan Belajar Qur’ani
Rendah hati merupakan salah satu akhlak mulia yang menjadi cerminan keimanan seseorang. Sifat ini bukan sekadar sopan dalam bertutur atau bersikap, tetapi juga kesadaran bahwa semua ilmu, kemampuan, dan keberhasilan adalah anugerah dari Allah. Dalam proses belajar, terutama di lingkungan Qur’ani, sikap rendah hati menjadi dasar penting untuk menumbuhkan ketenangan hati, menghargai sesama, dan menjaga keberkahan ilmu.
Di Rumah Qur’an Ruhama, anak-anak tidak hanya diajarkan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga dibimbing untuk memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Salah satunya adalah nilai tawadhu’ rendah hati di hadapan Allah dan sesama manusia. Anak-anak diingatkan bahwa siapa pun yang belajar, sejatinya sedang menjadi hamba yang sedang mencari ridha-Nya, bukan sekadar mencari pujian atau pengakuan.
Para ustadz dan ustadzah berperan penting dalam menanamkan sikap ini melalui teladan dan pembiasaan. Mereka tidak hanya menasihati dengan kata-kata, tetapi juga memperlihatkan sikap rendah hati dalam keseharian. Ketika menyampaikan pelajaran, mereka selalu menekankan bahwa ilmu yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah, dan tugas manusia adalah menyampaikannya dengan penuh kasih dan keikhlasan.
Sikap rendah hati juga diajarkan kepada anak-anak melalui cara mereka berinteraksi dengan teman-teman sekelas. Ketika ada teman yang lebih cepat memahami pelajaran atau hafalannya lebih banyak, anak-anak diajak untuk tidak merasa lebih baik dari yang lain. Sebaliknya, mereka diarahkan untuk membantu, mengajari, dan saling menyemangati. Dengan begitu, suasana belajar di Rumah Qur’an Ruhama menjadi lingkungan yang saling menumbuhkan, bukan bersaing secara tidak sehat.
Selain itu, anak-anak juga belajar bahwa rendah hati bukan berarti menutupi kemampuan, tetapi mampu menggunakannya dengan bijak dan tidak sombong. Mereka memahami bahwa semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya dengan adab. Dalam setiap kegiatan, dari murojaah bersama hingga kegiatan harian, nilai ini senantiasa dihidupkan agar menjadi karakter yang melekat dalam diri mereka.
Rendah hati menjadikan hati lebih tenang dan pikiran lebih terbuka untuk menerima ilmu. Anak-anak yang memiliki sikap tawadhu’ cenderung lebih mudah diarahkan, lebih menghormati ustadz dan ustadzah, serta lebih menghargai proses belajar. Inilah yang menjadikan pembelajaran di Rumah Qur’an Ruhama tidak hanya menumbuhkan kemampuan, tetapi juga menumbuhkan kepribadian yang lembut dan beradab.
Karena pada akhirnya, ilmu yang berkah bukan berasal dari banyaknya hafalan atau tingginya prestasi, melainkan dari hati yang selalu mengakui kebesaran Allah di atas segalanya. Dari hati yang rendah, tumbuhlah pribadi yang kuat, tenang, dan bijaksana seperti pohon yang semakin berbuah, semakin menunduk.
Salam hangat,
Rumah Qur’an Ruhama
Nurfaizah